PALANGKA RAYA – Masalah infrastruktur pertanian di wilayah Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dinilai masih membutuhkan penanganan cepat dari pemerintah daerah. Kondisi akses jalan yang buruk membuat biaya angkut hasil panen tidak sebanding dengan pendapatan petani.
Anggota DPRD Kalteng, Sutik, mengatakan para petani yang berdialog dengannya menyampaikan keluhan mengenai rusaknya jalan dan jembatan menuju area pertanian. Kondisi ini kerap menghambat distribusi hasil panen.
“Kalau pemerintah daerah ingin ikut menyukseskan program ketahanan pangan nasional, maka dukungan infrastruktur harus diprioritaskan. Jalan pertanian perlu segera diperbaiki,” ujarnya, Sabtu (15/11).
Ia menjelaskan, saat ini petani masih bergantung pada jalur sungai kecil untuk mengangkut hasil panen. Penggunaan kelotok atau perahu kecil dinilai tidak efisien karena kapasitasnya terbatas dan biaya operasionalnya tinggi.
“Biaya angkut lewat sungai cukup mahal, sehingga tidak sebanding dengan nilai jual padi. Ini membuat petani sulit memperoleh keuntungan,” jelasnya.
Sutik menambahkan, badan jalan menuju lahan pertanian sebenarnya sudah tersedia, namun kondisinya belum layak dan memerlukan perbaikan menyeluruh. Ia menyebut panjang ruas jalan yang harus dibenahi sekitar 10 kilometer.
“Samuda sudah ditetapkan sebagai kawasan pertanian. Bantuan alat berat dan mesin penggilingan memang ada dari pemerintah pusat, tapi yang paling mendesak sekarang adalah perbaikan jalannya,” tutupnya.
(ira/erakalteng.com)




























