SAMPIT – Bupati Kotawaringin ayomi (Kotim) Halikinoor mengungkapkan kekhawatirannya terhadap hilangnya identitas hutan Kalimantan akibat perubahan fungsi lahan.
“Kita kan terkenal dulu dengan ‘Masih Hijau’. Masih hijau itu di Kalimantan Tengah, ya di Kotim. Kita lihat sekarang masih ada seperti monumen Bereng Bengkel itu kan ada mulai zaman Belanda,” kenang Halikinoor, Jumat, 24 April 2026.
Ia menyayangkan bahwa banyak pohon asli Kalimantan kini telah berganti menjadi perkebunan kelapa sawit sehingga anak cucu tidak lagi mengenali pohon asli mereka.
“Dulu ada kayu mas, ada segala macam di sini. Nah karena terkenal dengan kayu, ini kan diganti dengan sawit,” ujarnya.
Secara khusus, Halikinoor ingin SD Alam Khatulistiwa menjadi tempat pelestarian pohon Ulin yang kini sudah mulai langka di habitat aslinya.
“Mungkin kita tidak tahu lagi, tidak pernah melihat bagaimana pohon kayu besi, orang tahu yang kita sebut Ulin. Nah sekarang sudah langka,” ungkap Halikinoor.
Dirinya berencana melibatkan dinas terkait untuk memastikan bibit pohon langka tersedia di lingkungan sekolah tersebut sebagai sarana edukasi siswa.
“Mudah-mudahan dengan ada sekolah ini nanti saya akan minta Kadis Lingkungan Hidup mencari bibit Ulin itu bisa ditanam juga di sini,” instruksinya.
Tujuannya adalah agar generasi mendatang tetap mengenal kekayaan alam asli daerahnya secara visual, bukan sekadar dari cerita atau sisa-sisa bangunan kayu.
“Jadi anak cucu kita tahu nanti melihat, ‘Oh ini yang namanya pohon Ulin’. Kita tahu memakainya aja masih ada bangunan-bangunan rumah tua itu, tapi kita tidak tahu bagaimana pohonnya,” jelasnya.
Langkah edukasi alam ini dianggap sangat relevan dengan kondisi lingkungan saat ini demi menjaga ketersediaan oksigen di masa depan.
“Kalau tidak ada dijaga seperti ini, ya mungkin hutan-hutan kita sudah tidak ada lagi sehingga oksigennya sudah susah. Nah ini juga yang kita harapkan,” tutup Halikinoor.
(SD/Erakalteng.com)




























