SAMPIT – Masalah banjir yang kerap melanda beberapa titik di Kecamatan Baamang menjadi perhatian serius Anggota DPRD Kotim, Syahbana.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan harus ditangani secara kolektif.
“Tentu banjir ini bukan hanya tugas seorang Camat, ini tugas kita bersama, tugas pemerintah daerah untuk mengelola banjir ini,” kata Syahbana saat meninjau kondisi lapangan di wilayah Baamang, Senin, 4 Mei 2026.
Kondisi intensitas hujan yang tinggi belakangan ini telah menyebabkan beberapa wilayah tergenang, yang dipengaruhi oleh keterbatasan fiskal daerah dalam melakukan perbaikan infrastruktur secara menyeluruh.
“Dengan keterbatasan tentu ini keterbatasan anggaran, ini tidak akan mungkin lebih cepat untuk menanganinya,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mendorong agar solusi swadaya dan koordinasi tingkat bawah lebih ditingkatkan.
Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah menggerakkan kembali semangat kerja bakti di lingkungan warga.
Syahbana meminta pihak kecamatan untuk proaktif merangkul masyarakat.
“Nanti kita melalui Pak Camat agar bisa berkoordinasi dengan lurah-lurah yang ada dan mengajak masyarakat yang ada di Kecamatan Baamang itu untuk bisa bergotong royong membersihkan selokan-selokan,” imbaunya kepada jajaran aparatur setempat.
Mengenai keluhan banjir di fasilitas publik, terutama sekolah-sekolah yang sempat viral, Syahbana menegaskan bahwa penanganannya harus melibatkan koordinasi yang luas. Ia berpendapat bahwa masalah drainase di satu titik berkaitan dengan titik lainnya.
“Tentu pihak sekolah juga berkolaborasi dengan pihak-pihak pemerintah daerah juga, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan untuk mengatasi hal-hal seperti itu,” tuturnya menanggapi laporan banjir di SMA 2 Sampit.
Syahbana juga mengingatkan bahwa faktor kesadaran kolektif jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan anggaran pemerintah yang terbatas. Baginya, penanganan banjir adalah bentuk pengabdian bersama terhadap lingkungan tempat tinggal.
“Kalau kita melihat dari sisi anggaran itu tidak memungkinkan untuk saat ini, hanya ini tinggal bagaimana kesadaran kita, kesadaran kita sebagai masyarakat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat agar bisa bersatu mengatasi banjir ini,” ungkapnya.
Syahbana berpesan agar masyarakat tetap waspada mengingat banjir merupakan fenomena alam yang dipengaruhi banyak faktor.
Ia mengajak warga untuk tidak patah semangat dan terus menggalakkan pembersihan lingkungan secara mandiri sambil menunggu perbaikan permanen dari pemerintah daerah.
“Karena ini memang fenomena alam yang tidak bisa kita hindari sebenarnya,” pungkasnya mengakhiri pernyataan.
(SD/Erakalteng.com)

























