SAMPIT – Masalah stunting masih menjadi tantangan serius bagi pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Berdasarkan data terbaru, kondisi ini memerlukan perhatian khusus.
“Saat ini sebagaimana kita tahu bahwa angka stunting kita masih lumayan tinggi, 21,6% berdasarkan survei status gizi Indonesia,” ungkap Pj Sekda Kotim, Umar Kaderi, Rabu, 22 April 2026.
Menanggapi hal tersebut, Umar Kaderi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun komitmen bersama di halaman Puskesmas Baamang I.
“Hari ini adalah kita bagaimana momen kita hari ini membuat komitmen kepada masyarakat, kepada camat, stakeholder yang ada di kecamatan untuk membantu bersama-sama kita untuk memerangi, mengurangi angka stunting di Kotim,” serunya.
Pihaknya berharap program yang dijalankan dapat memberikan hasil yang nyata di lapangan.
“Kita berharap stunting yang ada bisa kita eliminasi. Itu harapan kita sehingga ke depannya kita bisa mengurangi angka stunting yang ada di Kotim,” tambah Umar.
Dalam kesempatan itu, ditekankan pula pentingnya pemantauan pertumbuhan anak secara teknis. Petugas di lapangan diingatkan untuk jeli melihat indikator fisik anak.
“Di bawah minus dua itu termasuk anak-anak yang stunting,” jelasnya merujuk pada standar pengukuran tinggi badan anak.
Umar optimis bahwa dengan intervensi yang tepat, kasus baru dapat dicegah.
“Kalau MBG (Makanan Bergizi Gratis/Tambahan) nanti itu bisa berhasil, maka kita berharap tidak muncul kasus-kasus stunting yang baru dan kita berharap stunting yang ada bisa kita eliminasi,” tuturnya optimistis.
Pj Sekda menegaskan kembali tujuan utama dari gerakan ini. Melalui edukasi dan pemberian asupan yang layak, pemerintah daerah menargetkan kelahiran generasi masa depan yang berkualitas.
“Sehingga pada saat melahirkan nanti bisa melahirkan bayi-bayi yang cerdas, bayi-bayi yang sehat yang menjadi harapan kita semua,” tutupnya.
(SD/Erakalteng.com)



























