SAMPIT – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus menebal di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memicu kekhawatiran masyarakat. Kondisi ini dinilai sangat berpotensi mengganggu kesehatan warga, terutama anak-anak sekolah yang tetap menjalankan aktivitas pembelajaran di pagi hari.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kotim, Dadang, mendesak Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat untuk segera mengambil langkah cepat dan konkret. Ia meminta Dinkes membagikan masker secara masif kepada masyarakat serta rutin memantau tingkat pencemaran udara.
Dadang menyoroti ancaman kesehatan yang membayangi para siswa saat harus menembus paparan asap pekat di pagi hari.
Menurutnya, tindakan pencegahan harus segera dilakukan sebelum timbul masalah kesehatan yang lebih serius seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kabut asap ini sudah menebal dan sangat tidak baik untuk kesehatan, khususnya bagi para pelajar. Saya minta Dinkes untuk segera melakukan pengecekan kualitas udara guna menentukan langkah antisipasi ke depan,” tegas Dadang, Rabu, 5 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar hasil pengukuran kualitas udara dari Dinkes dijadikan acuan evaluasi kebijakan sekolah.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan opsi untuk mengundur jam masuk sekolah jika parameter kualitas udara terbukti sudah masuk dalam kategori membahayakan.
Pantauan di lapangan menunjukkan kabut asap pekat masih menyelimuti kawasan Sampit dan sekitarnya hingga berita ini diturunkan. Meski kerap menipis seiring bertambahnya siang, aroma khas kebakaran lahan masih tercium menyengat dan mengganggu kenyamanan warga yang beraktivitas di luar ruangan.
(SD/Erakalteng.com)


































