SAMPIT – Kabut asap pekat kembali menyelimuti wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Kondisi memprihatinkan ini terjadi akibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian marak dan terus melanda kawasan tersebut setiap harinya.
Dampak dari karhutla tersebut kini sangat terasa pada penurunan kualitas udara, terutama di pagi hari. Bau sangit khas pembakaran sudah tercium menyengat sejak malam hari, sementara paparan kabut asap tebal masih mengganggu jarak pandang dan area pemukiman hingga pukul 08.00 WIB.
Meskipun ancaman polusi udara makin memburuk, aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah setempat terpantau masih berjalan seperti biasa. Para siswa dari berbagai tingkatan tetap masuk kelas mengikuti jadwal normal tanpa adanya penyesuaian dari pihak pengelola pendidikan.
Situasi ini lantas memicu kekhawatiran mendalam dari para orang tua murid. Banyak dari mereka khawatir akan ancaman penyakit saluran pernapasan (ISPA) yang mengintai anak-anak saat harus menembus paparan asap pekat ketika berangkat sekolah di pagi hari.
Keluhan tersebut salah satunya disuarakan oleh Atun, seorang warga setempat yang memiliki anak di jenjang TK, SMP, hingga SMA.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mengambil kebijakan untuk mengundur jam masuk sekolah demi keselamatan anak-anak.
“Semoga jam pelajaran bisa diundur, apalagi saat ini kabut di pagi hari sampai jam 8 pagi masih ada, dan bau asap dari malam tadi sudah tercium,” ujarnya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Masyarakat berharap instansi terkait segera mengevaluasi kondisi kualitas udara di Kotim dan mengambil langkah cepat. Kebijakan penyesuaian jam belajar maupun penyediaan fasilitas perlindungan bagi siswa dinilai sangat mendesak agar kesehatan para pelajar tetap terlindungi selama masa rawan karhutla.
(SD/Erakalteng.com)


































