SAMPIT – Dunia pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali diguncang oleh kabar miring terkait tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh oknum pelajar.
Beredarnya berita mengenai perbuatan asusila yang dilakukan oleh siswa di dalam ruang kelas menjadi perbincangan hangat dan memicu keprihatinan kolektif.
Kejadian yang mencoreng institusi pendidikan ini mendapat atensi khusus dari pihak legislatif.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah, menyayangkan peristiwa tersebut dan menilai bahwa ini menjadi salah satu peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan.
Dirinya meminta agar hal ini menjadi perhatian serius serta bahan evaluasi mendalam bagi pemerintah daerah melalui dinas terkait.
Menurut Riskon, fenomena ini merupakan bukti nyata dari adanya kemunduran karakter yang tengah melanda dunia pendidikan saat ini.
“Kami dari DPRD beberapa waktu yang lalu sudah mengingatkan, kita ini sudah mengalami degradasi moral di dunia pendidikan kita,” ungkapnya prihatin, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia menilai kemerosotan nilai-nilai kesantunan ini salah satunya dipicu oleh dampak negatif dari perkembangan teknologi informasi yang tidak terkontrol pada remaja.
Riskon menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena pengaruh dari pesatnya teknologi di media sosial, smartphone, gadget, mereka sudah banyak terpengaruh.
Oleh karena itu, Komisi III DPRD mendorong Dinas Pendidikan setempat untuk segera menyusun formulasi program pembelajaran yang tepat demi memperbaiki keadaan ini.
“Diperlukan upaya dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan bagaimana menanamkan, selain dari ilmu pengetahuan itu, juga akal budi pekertinya, akhlak budi pekerti dari dunia pendidikan,” jelas Riskon.
Riskon juga mengkritisi kecenderungan lembaga pendidikan saat ini yang dinilai terlalu menonjolkan nilai akademik dan kegiatan fisik semata.
“Artinya tidak hanya ilmu pengetahuan dan ekstrakurikuler olahraga saja yang ditonjolkan oleh dunia pendidikan kita. Harus juga diselipkan pelajaran-pelajaran yang menanamkan budi pekerti, akhlak yang baik di dunia pendidikan kita. Karena kami melihat juga perkembangan dari siswa-siswi kita, menonjol dia di nilai akademiknya, tetapi akhlaknya jauh kepada orang yang lebih tua. Ketika misalnya diingatkan oleh orang tuanya, dia berontak,” pungkasnya.
(SD/Erakalteng.com)































